OPINI

Melestarikan Kue Pasung, Kudapan Tradisonal Hasil Persilangan Budaya Jawa dan Sunda

Melestarikan Kue Pasung, Kudapan Tradional Hasil Persilangan Budaya Jawa dan Sunda Melestarikan Kue Pasung, Kudapan Tradional Hasil Persilangan Budaya Jawa dan Sunda

Progresnews.com -- Makanan tradisional tidak hanya kuliner yang mampu menyenyangkan perut lapar namun bisa disebut sebagai identitas sebuah daerah. Identitas inilah yang menggambarkan budaya dan kearifan lokal sebuah daerah.

Namun apa jadinya jika makanan tradisional yang merupakan identitas asli tersebut kini sulit ditemukan, dan sudah mulai tergantikan dengan kuliner-kuliner modern?. Sebut saja misalnya hadirnya es kepal milo, donat indomie, dan jajanan kekinian yang merupakan hasil inovasi yang lebih menggugah selera. Hal ini tentu ini menjadi ancaman, selain bagi eksistensi dari makanan tradisonal itu sendiri, tentunya akan berdampak pada hilangnya identitas daerah yang bersangkutan.

Salah satu kuliner atau makanan tradisonal yang sudah mulai susah dicari salah satunya yakni kue pasung. Kue manis ini tidak hanya sekedar kudapan yang mengeyangkan tapi ada nilai-nilai filsofis didalamnya. Dimana, dahulu kue ini hanya disajikan bagi kaum bangsawan saja, dan merupakan hasil persilangan budaya sunda dan Jawa.

Persilangan budaya Jawa dan Sunda dalam Kue ini terlihat dari bentuk dan bahan yang digunakan. Bentuk kue ini yaitu kerucut menyerupai 'seupan' yang merupakan alat untuk menanak nasi yang  terbuat dari anyaman bambu, yang digunakan jaman dahulu oleh masyarakata Sunda atau dikenal sebagai budaya Pasundan. Sementara bahan-bahanya, sentuhan sunda terlihat dari daun isang sebagai pembungkus adonan serta bahan khusus bolondo, yakni ampas olahan minyak kelapa yang rasanya manis.

Namun yang sangat disayangkan, makanan hasil perpaduan budaya Jawa dan Sunda ini sudah mulai jarang ditemukan dan kalah pamor dengan makanan-makanan modern. Hanya pada momen dan tempat tertentu saja makanan yang menjadi primadona Banten ini bisa ditemukan, misalnya Mauli Nabi, Resepsi Pernikahan, dan Hari Raya, dan itupun biasanya hanya ditemukan di kelompok masyarakat tradisional saja.

Sulitnya mencari kudapan asli Banten ini, dirasakan oleh salah satu mahasiswa di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Anjar Izzulhaq. Ia, mengaku harus pergi jauh ke Pasar Lama, Kota Serang, untuk mendapatkan kue pasung. Itupun, Ia harus berangkat pagi-pagi sekali, karena biasanya berebut dengan konsumen lain. Terlambat sedikit saja, ia takbisa mencicipi kue manis tersebu

“Seharusnya kue yang di primadonakan sejak lama tersebut haruslah tetap dilestarikan agar eksis sampai dikemudian hari. Dengan begitu, kue ini akan terus ada di setiap daerah di Banten & jumlah makanan ini tidak terbatas alias mudah ditemukan bagi para pecintanya. Namun hingga sekarang. Kue pasung ini kurang dilirik oleh masyarakatnya sendiri dan hanya beberapa orang yang mengenalnya. Tidak viral seperti es kepal milo dan lain-lain. Jika dibiarkan seperti ini secara terus menerus, maka eksistensi dari kue pasung ini sendiri akan lenyap dengan sendirinya,” kata Anjar Izzulhaq, salah satu penikat kue pasung.

Kesulitan mencari Kue Pasung ini, rasanya tidak hanya dialami oleh Izzul. Hal ini sudah sepatutnya menjadi perhatian serius, tidak hanya bagi pemerintah, melainkan juga masyarakat secara luas. Komunitas Kuliner, Para Pengusaha serta anak-anak muda memiliki andil besar dalam memunculkan kembali makanan tradisional, khususnya pasung ini.

Pemerintah melalui Dinas Koperasi dan UMKM bisa memberikan modal dan tempat kepada masyarakat yang ingin membuka usaha kudapan kuliner, kemudahan juga wajib diberikan kepada masyarakat atau pengusaha kecil yang bertujuan untuk kembali menghidupkan jajanan-jajanan tradisonal. Kemudian, Dinas Pariwisata sudah sepatutnya melakukan promosi secara massif baik kepada masyarakat lokal maupun nusantara. Hal ini tentu akan akan sangat baik untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat dan daerah.

Khusus anak muda Banten, kelangkanaan jajanan tradisional khususnya kue pasung ini, patut menjadi perhatian serius. Anak muda Banten, bisa mengambil peran dengan ikut memasarkan kue pasung dan kudapan tradisional lainnya agar eksistensinya bisa terjaga. Salah satunya yakni dengan mengawinkan tekhnologi dan kudapan tradsional menjadi strategi pemasaran yang apik.

Akhirnya, keberpihakan semua kalangan terhadap makanan tradisional khsusunya pasung yang merupakan hasil kawin dua budaya Jawad an Sunda ini, sangat diperlukan untuk menjaga eksistensi dan nilai-niali budaya lokal.

Editor : Agus Maulana
Penulis : M Ilham Ardiansyah dan Farhan Aulia Rahman Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNTIRTA
Dosen Pembimbing : Dr. Nina Yuliana, S.sos, M.Si
Loading...
Komentar