PROGRESNEWS
PreviousPauseNext

ICW Desak Presiden Bentuk TGPF Untuk Novel Baswedan

Penyidik Senior KPK Novel Baswedan mengalami cacat pada matanya usai kasus penyerangan air keras oleh pelaku yang sampai saat ini belum bisa diungkap pihak kepolisian Penyidik Senior KPK Novel Baswedan mengalami cacat pada matanya usai kasus penyerangan air keras oleh pelaku yang sampai saat ini belum bisa diungkap pihak kepolisian

Jakarta, Progresnews.com -- Indonesian Corruption Watch (ICW) mendesak Presiden Jokowi untuk segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) atas kasus penyiraman air keras terhadap Penyidik Senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan.

Berdasarkan rilis yang diterima Progresnews.com, ICW menyebutkan, sembilan bulan sudah penyerangan terhadap Penyidik KPK Novel Baswedan terjadi, tapi tidak ada titik terang pengusutan penyerangan tersebut oleh Kepolisian Republik Indonesia.

Pencapaian Polri dalam mengungkap perkara ini kata ICW, hanya dilansirnya sketsa wajah yang diduga sebagai penyerang Novel Baswedan, pada November 2017 lalu, dibarengi dengan nomor hotline yang bisa dihubungi manakala masyarakat memiliki informasi terkait para pelaku.

"Minimnya perkembangan dalam penanganan perkara Novel Baswedan, juga menunjukkan minimnya komitmen dan itikad baik dari Polri, khusunya Polda Metro Jaya, dalam mengungkap pelaku penyerangan dan dalang di balik penyerangan tersebut. Polri berdalih bahwa bukti berupa rekaman CCTV dan keterangan saksi belum mencukupi untuk penelusuran lebih jauh.

ICW membandingkan lambatnya penanganan kasus Novel Basewdan ini dengan beberapa kasus pidana yang penanganan nya lebih cepat hanya bermodal CCTV.



"Sebagai perbandingan, Polri pernah berkali-kali mengungkap perkara pidana berbekal rekaman CCTV. Beberapa perkara di antaranya adalah, penyekapan dan perampokan yang mengakibatkan kematian di Pulomas, penyerangan terhadap pakar telematika ITB Hermansyah di Tol Jagorawi, dan pembunuhan di Kampung Rambutan. Pada ketiga perkara ini, Polri bisa menemukan dan menangkap tersangka pelaku kejahatan dalam jangka waktu 1 – 3 hari, dengan berbekal CCTV di sekitar lokasi kejadian," kata ICW dalam rilisnya.

Bahkan, dalam beberapa kasus terorisme, Polri bisa sangat lincah menangkap dan membekuk para pelaku. Namun anehnya dalam kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan, justru berbanding terbalik dengan prestasinya selama ini.

"Kemampuan Polri juga sudah teruji dalam menangani perkara yang kompleks seperti dalam pemberantasan terorisme. Dalam beberapa perkara, Polri bahkan dapat membekuk kelompok teroris, bahkan sebelum melakukan serangan teror. Contoh-contoh kejadian ini menunjukkan bahwa Polri mampu mengungkap perkara dengan serius, kecuali untuk perkara penyerangan terhadap Novel Baswedan"

ICW pun menduing, lambatnya penanganan kasus Novel Baswedan menunujukan bahwa Polri tidak memiliki niatan baik untuk meneyelsaikan kasus ini.

"Lamanya penanganan perkara Novel Baswedan ini, menunjukkan bahwa Polri tidak punya niat baik untuk menuntaskan perkara tersebut. Itulah mengapa, Presiden bukan hanya perlu mengevaluasi kerja Polri, tapi juga membentuk Tim Investigasi Independen untuk membantu percepatan penanganan perkara ini" tulis ICW

Atas alasan itulah, ICW mendesak Presiden Jokowi untuk melakukan evaluasi terhadap Polda metro Jaya dan membentuk TGPF Kasus Novel baswedan, segera memnebtuk TGPF Kasus Novel Basewda.

"Mengevaluasi kerja Polda Metro Jaya, khususnya Dirkrimum dalam menyidik penyerangan terhadap Novel Baswedan, Membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta yang bersifat independen untuk mempercepat pengungkapan penyerangan Novel Baswedan" tuntut ICW.. (Red)

Komentar

Terpopuler