Budaya Tradisional

Jalankan Ritual Kawalu, Wisatawan Dilarang Masuki Baduy Dalam

Suku Daduy Dalam, membawa hasil alam untuk diserahkan kepada pemerintah daerah dalam ritual Seba Baduy, di Lebak, Banten, Jumat 2 Mei 2015. (Doc : Tempo) Suku Daduy Dalam, membawa hasil alam untuk diserahkan kepada pemerintah daerah dalam ritual Seba Baduy, di Lebak, Banten, Jumat 2 Mei 2015. (Doc : Tempo)

Lebak, Progresnews.com -- Memasuki pertengahan Februari, tepatnya mulai Kamis (18/02), Masyarakat Suku Baduy Kabupaten Lebak, akan melaksanakan ritual adat tahunan Kawalu, selama 3 bulan kedepan. Untuk menjaga kekhusyuan ritual, seluruh wisatawan baik domestik maupun mancanegara dilarang memasuki kawasan Baduy Dalam, yang tersebar di 3 titik yakni Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik.

“Kami meminta wisatawan menghormati dan menghargai keputusan adat karena masyarakat Baduy Dalam sedang menjalani ritual adat peninggalan nenek moyang itu,” kata Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, yang juga tetua adat Baduy Abah Saija, Senin (15/2).

Traidisi turun temurun yang diwariskan oleh nenek moyang ini biasa di isi dengan berpuasa dan berdoa. Memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk meminta keselamatan, keamanan, kedamaian dan kesejahteraan bagi Bangsa dan Negara. “Kalau negara ini aman dan damai tentu masyarakat akan sejahtera,” katanya.

Abah Saija juga berencana akan memasang papan peringatan memasuki Baduy Dalam, di pintu gerbang Baduy di Desa Ciboleger. Dengan adanya papan peringatan itu diharapkan para wisatawan bisa memahami dan menghormati ritual yang sedang dilakukan oleh masyarakat Baduy Dalam.

“Selama melaksanakan kawalu, kondisi kampung Baduy Dalam sepi karena mereka berpuasa dan banyak memilih tinggal di rumah-rumah,” katanya.

Sementara itu, Penggiat Masyarakat Baduy, Asep membenarkan bahwa tradisi Kawalu merupakan tradisi yang tertutup bagi masyarakat luar, tanpa terkecuali. 

Setelah berakhirnya perayaan kawalu, para wisatawan diperblehkan kembali mendatangi kawasan Baduy Dalam. Namun, selang satu bulan setelah Kawalu, masyakarat Baduy biasanya langsung menggelar tradisi tahunan lainnya yakni Seba. Yaitu, mendatangi bupati dan Gubernur Banten dengan membawa hasil-hasil bumi (pertanian).

“Setiap ‘seba’ mereka masyarakat Baduy akan membawa hasil pertanian ladang, seperti gula merah, pisang dan petai,” katanya. (Haedi/PN06)

Loading...
Komentar