Aktivis Muhammadiyah Sebut DRD Hanya Untuk "Kerabat" Gubernur

Sejumlah anggota DRD yang tengah duduk santai menunggu prosesi pelantikan Sejumlah anggota DRD yang tengah duduk santai menunggu prosesi pelantikan

Serang, Progresnews.com -- Aktivis Muda Muhammadiyah Suparta Kurniawan menuding dilatiknya Dewan Riset Daerah  (DRD) hanyalah ajang ajang bagi-bagi "kue" antara Gubernur dan orang-orang dekatnya. Tudingan itu ia lontarkan lantaran mulai dari proses seleski hingga terpilihnya 15 nama anggota DRD, dilakukan secara tertutup dan jauh dari unsur transparansi dan akuntabel.

Tertutupnya seleksi DRD menurut analisa Suparta, adalah sesuatu yang disengaja. Hal itu dimaksudkan agar masyarakat Banten tidak mengetahui adanya proses seleksi calon peneliti Daerah. Dengan begitu, panitia seleksi pun akan leluasa mengakomodir orang-orang terdekat Rano Karno untuk mengisi DRD.

"Sedari awal perekrutan anggota DRD oleh Balitbangda (Badan Penelitian dan Pengembangan daerah) Banten, dilakukan secara tertutup. Ini jelas telah melenceng dari prinsip transparansi dan akuntabilitas. Saya menduga, tertutupnya proses seleksi, lantaran panitia hanya ingin mengakomodir orang-orang terdekat Gubernur." kata Suparta saat ditemui di salah satu rumah makan di Kota Serang, Rabu, (24/02)

Tudingan adanya kongkalingkong dalam proses seleksi menurut Suparta terbukti dengan masuknya salah satu anggota DRD yang bukan berasal dari provinsi Banten. Hal ini jelas telah mengecilkan potensi SDM lokal.

"Terbukti dari 15 anggota yang di lantik terdapat salah satu orang dari sumatera utara. Ini menandakan bahwa Banten seolah-olah kekurangan stok dewan riset sehingga mengambil dari luar Banten" ungkap Suparta

Meski tidak bertentangan dengan aturan, namun masuknya anggota DRD yang bukan berasal dari Provinsi Banten jelas menjadi bukti bahwa panitia seleksi dan gubernur tidak serius dalam mengembangkan potensi lokal.

"Kami menyesalkan, di saat Banten perlu terobosan baru dalam riset daerah untuk memajukan daerah, namun ironis dewan riset daerah yang sejatinya diisi oleh orang-orang lokal yang kompeten dan kapabel, ternyata sebagian di huni oleh orang luar banten yang kapasitas dan kompetensinya dalam hal riset di banten ini sangat kami ragukan."tegas Suparta

Dengan kejadian in, Suparta sangat menyesalkan keputusan Panitia Seleksi dan Gubernur yang cenderung mementingkan kelompoknya dalam mengelola pemerintahan, khususnya dunia riset di provinsi Banten.

"Gubernur Banten tidak bisa bertindak profesional dan transparan, kebijakannya selalu ditunggangi oleh kepentingan kelompoknya. Jelas sekali kami meragukan kinerja dewan riset daerah periode 2016-2018, karena mereka lahir atas kepentingan golongan bukan berbasis kebutuhan riset pada kemajuan banten" tutup Suparta.

Sebelumnya, Gubernur Banten Rano Karno melantik 15 anggota Dewan Riset daerah Banten di Pendopo Gubernur, Rabu (24/02) ke-15 anggota DRD tersebut diantaranya, Tihami, Dodi Nandika, Masduki, Egi Djanuiswati, Suhari, Abdul Hamid, Firman Hadiyansyah, Ginanjar Hambali, Abdul Rohman Syahputra, Muhammad Turizal Husain, Ahmad Supena, Rully Amrullah, Jaenal Abidin, Rapih Herdiansyah, Nurely Yudha Sunaningrum. (Haedi/PN06)

Loading...
Komentar