Batu Kuwung, Cerita Rakyat Tentang Kesewenang-wenangan Seorang Saudagar

Tempat Wisata Batu Kuwung yang berlokasi di Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, banten (Doc : Net) Tempat Wisata Batu Kuwung yang berlokasi di Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, banten (Doc : Net)

Serang, Progresnews.com -- Batu Kuwung, tempat wisata ini tentu tak asing di telinga masyarakat Banten, wisata pemandian air panas yang terletak di Kecamatan Padarincang ini ternyata punya cerita menarik dibalik sebutannya. Batu Kuwung jika diartikan dalam bahasa Indonesia ialah batu cekung.

Konon, menurut cerita rakyat (folklore), dahulu pernah hidup seorang saudagar kaya raya yang mempunyai hubungan sangat erat dengan kekuasaan Sultan Haji. anak dari Sultan Ageng Tirtayasa. Karena kedekatannya itut, sang Saudagar mendapat hak monopoli perdagangan beras dan lada dari Lampung. Tak ayal, usahanya pun maju pesat. Dengan kekuasaan yang dimiliki saudagar serta semakin hari kekayaannya bertambah ia pun membeli tanah milik warga yang berdekatan dengan rumahnya dengan harga yang sangat murah.

Tak lama kemudian saudagar itu diangkat menjadi kepala desa, gaya hidup yang mewah ditunjukkannya dengan tgidak mempedulikan rakyat sekitarnya yang hidup miskin dan terbelakang. Dari tidakan yang sewenang-wenang itulah masyarakat sekitar banyak yang membenci.

Syahdan, suatu hari di desa tempat tinggal sang Saudagar kaya raya itu, lewatlah seorang sakti yang menyamar sebagai seorang pengemis lapar dengan kaki pincang. Sebelumnya, Orang Sakti ini sudah tahu mengenai perangai buruk sang Saudagar, dikarenakan keburukannya sudah jadi obrolan rutin penduduk, di pasar atau di warung-warung kopi. la datang ingin memberi pelajaran dan menyadarkan sang Saudagar yang sombong dan kikir tersebut.

Maka, si Pengemis berkaki pincang yang tidak lain adalah seorang sakti itu mampir menemui sang Saudagar di rumahnya yang besar dan mewah. Si Pengemis mengutarakan maksudnya menemui sang Saudagar untuk meminta sedikit makanan pengganjal perut dan sedikit kekayaan sebagai modal usaha. Tetapi sang Saudagar memang sangat kikir. Bukannya memberi, ia malah memaki-maki si Pengemis berkaki pincang.

Mendapat perlakuan seperti itu, si Pengemis berkaki pincang pun murka. la memperingatkan bahwa sang Saudagar akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya.

Benar saja. Esok hari ketika sang Saudagar bangun dari tidur, ia tidak dapat menggerakkan kedua kakinya. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menggerakkan kakinya, tetapi tetap saja tidak bisa. Sang Saudagar pun panik. la bertenak-teriak histeris. Para pengawal pribadinya segera berdatangan mendengar teriakan sang Saudagar tersebut. Jadilah sang Saudagar menderita kelumpuhan pada kedua kakinya. Berbagai bentuk pengobatan ia lakoni tapi tak membuahkan hasil.

Si Pengemis berkaki pincang mendengar janji tersebut. Maka ia pun datang menemui sang Saudagar dan menjelaskan apa yang sebenarnya menjadi sebab kelumpuhan kaki sang Saudagar. Pertama, kau harus bisa merubah sifat sombong dan kikirmu itu. Kedua, kau harus pergi ke kaki Gunung Karang dan carilah sebuah Batu Cekung. Ketiga, "apabila kakimu sudah sembuh seperti biasa, kau harus memenuhi janjimu untuk merelakan setengah dari harta kekayaan tersebut kepada orang-orang miskin di tempat tinggalmu," kata si pengemis, kemudian ia pun menghilang tanpa jejak.

Singkat cerita sang saudagar itu sembuh dari kelumpuhannya dan Apabila ada orang bertamu ke rurnahnya, sang Saudagar kerap kali bercerita, perihal keajaiban mata air panas Batu Cekung di kaki Gunung Karang yang dapat menyembuhkan kelumpuhan kakinya. Lambat laun cerita dari mulut ke mulut itu pun tersebar luas. Banyak orang yang tertarik untuk mendatanginya. Konon, beberapa macam penyakit lain dapat sembuh apabila mandi dengan mata air panas Batu Cekung tersebut.

Kini, orang-orang mengenalnya sebagai objek wisata mata air panas “Batu Kuwung” (yang berarti batu cekung). Objek wisata yang belum dikelola secara profesional ini, masuk ke dalam wilayah Kecamatan Padarincang, Ciomas, berlatar belakang kaki Gunung Karang. (Iqbal/PN06)

Loading...
Komentar