Dies Natalis UIN SMH Banten, Gubernur WH : Pendidikan Jadi Prioritas Utama

Gubernur Banten Wahidin Halim saat menyampaikan sambutan pada Dies Natalis yang ke-56 UIN Sultan Maulana Hassanudin Banten, Serang,  Selasa (16/10). Gubernur Banten Wahidin Halim saat menyampaikan sambutan pada Dies Natalis yang ke-56 UIN Sultan Maulana Hassanudin Banten, Serang, Selasa (16/10).

Serang, Progresnews.com -- Gubernur Banten Wahidin Halim kembali menegaskan komitmennya untuk memajukan pendidikan di Banten. Bukan hanya memperbanyak sekolah, tapi meningkatkan kualitas pendidikan menjadi prioritas utama kepemimpinannya bersama Wagub Andika Hazrumy.

Pernyataan tersebut ia sampaikan saat menghadiri  Sidang Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis yang ke-56 Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hassanudin Banten, Serang,  di Aula Syadzili Hasan Kampus UIN SMH Banten, Selasa (16/10).

“Ini tentu selaras dengan RPJMD provinsi banten bahwa pendidikan menjadi prioritas utama, ini bukan hanya soal memperbanyak sekolah-sekolah tetapi membangun pendidikan yang berkualitas,” kata Gubernur dalam penggalan sambutannya, Selasa (16/10).

Gubernur yang kerap disapa WH itu pun memberikan ucapan selamat serta berharap UIN SMH Banten bisa lebih maju, “Semoga UIN tambah jaya, berkembang dan menjadi rujukan masyarakat banten khusunya dan masyarakat Indonesia pada umumnya,” katanya. 

Sebagai Gubernur, WH juga mengaku sangat bangga karena di Provinsi Banten ini terdapat 136 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Ini menandakan banten sudah menjelma sebagai kawasan pendidikan.



“Karena muridnya dan mahasiswanya bukan datang dari banten sendiri tapi dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. UIN dan juga Untirta telah banyak melahirkan alumni-alumni yang telah berperan dalam pembangunan kehidupan di provinsi banten,” kata Gubernur.

Sementara itu, mewakili Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Sekjen Kemenag M Nur Kholis Setiawan menyampaikan orasi ilmiahnya pada Sidang Senat Terbuka Dies Natalis Ke-56 UIN SMH Banten yang tahun ini menangkat tema "Integrasi Keilmuan sebagai Destinasi Peradaban Islam Moderat".

"56 tahun bukan usia muda tapi matang. Usia di mana kampus sudah harus selesai dengan dirinya sendiri dan menjadi lebih banyak memikirkan umat,  komunitas, dan bangsa," terang Sekjen mengawali orasinya,  di Serang,  Selasa (16/10). 

Nur Kholis menyampaikan, ada  empat hal yang menjadi pesan untuk kampus islam negeri di banten ini, yaitu: keilmuan, keislaman, keindonesiaan, dan kemasyarakatan. Ia berpesan agar UIN SMH Banten mampu menjaga dan mengembangkan empat pilar tersebut. 

"Perguruan Tinggi adalah institusi di mana para cerdik cendekia dan akademisi berkumpul,  melakukan pendidikan dan pengajaran serta modifikasi ilmiah.  Mahasiswa juga diajarkan melakukan kajian dan diskusi akademis sehingga core businessnya  adalah keilmuan," ujarnya. 

Tapi, Nur Kholis menggarisbawahi bahwa keilmuan tidak sekedar untuk ilmu, tapi juga untuk kemanusiaan. "Sehingga, paradigma berfikir UIN adalah mengembangkan keilmuan yang berorientasi pada kemanusiaan," tegasnya.



Kedua, keislaman. Sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), maka core businessnya adalah kajian keislaman. Pendidikan yang dikembangkan di UIN adalah kajian yang mampu mengarusutamakan moderasi beragama. Sebab, ini menentukan masa depan Indonesia,  kerukunan umat beragama dan peradaban Indonesia di masa mendatang. 

Pemikiran keislaman yang didalami fakultas keislaman, kata M Nur Kholis Setiawan, harus mampu mewujudkan pemikiran yang mengarah kepada moderasi beragama, "Misi pengembangan keilmuan UIN adalah bagaimana mampu berada di tengah, mampu mempertemukan dua kutub, literalis dan liberalis," ujarnya. 

Dikatakan Sekjen yang juga Guru Besar Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, para ulama terdahulu banyak mengajarkan bagaimana menjadi pihak di tengah. Imam Asy Syaukni misalnya,  dalam Fathul Qadir juz pertama halaman 12 mengatakan,  mufassir memberikan keterangan bahwa ada dua kutub yang berseberangan dalam memahami teks quran. Pertama,  hanya mendasarkan diri pada riwayat. Kedua,  hanya pada filsafat bahasa, "As Syaukani hadir untuk mempertemukan keduanya," ucap M Nur Kholis. 

"Keislaman di perguruan tinggi harus mampu menjadi feeder dan vitamin positif pengembangan moderasi beragama," sambungnya. 

Ketiga, keindonesiaan. Pemikiran keislaman yang dikembangkan UIN SMH adalah pemikiran yang berorientasi mempererat komponen seluruh bangsa sehingga NKRI maju karena kita tidak terus bertengkar. Sehingga tidak lagi ada ruang pemikiran anti NKRI, "Keindonesian harus menjadi bagian inheren kita semua sebagai ilmuan muslim," tegasnya.



Keempat, kemasyarakayan.  PTKI tidak boleh asyik di Menara Gading. Karya yang diterbitkan dan publikasi yang dihasilkan tidak boleh berorientasi pada ilmu semata, tapi juga merespon perkembangan zaman. 

"PTKI mandapat tantangan luar biasa agar kajian keilmuan yang dikembangkan berdampak terhadap perkembangan masyarakat,  merespon kebutuhan dan mengadvokasi publik terutama mustad'afin," tandasnya. 

Dies Natalis UIN SMH Banten diperingati setiap 16 Oktober. Hal itu merujuk kepada dikeluarkannya SK Penegerian oleh Menteri Agama KH Saifuddin Zuhri pada tahun 1962. (Red)

Loading...
Komentar