Mahasiwi Untirta Lakukan Penelitian dan Mengajar di Rumah Peradaban Banten

Mahasiwi Untirta Lakukan Penelitian dan Mengajar di Rumah Peradaban Banten, Minggu (22/4) Mahasiwi Untirta Lakukan Penelitian dan Mengajar di Rumah Peradaban Banten, Minggu (22/4)

Cilegon, Progresnews.com -- Pemandangan berbeda terlihat saat Program kelas mengajar yang digelar rutin oleh Rumah Peradaban Banten (RPB) yang difokuskan di 4 desa yang berada di kec Ciwandan dan Citangkil, yakni Kubang Welut, Temugiring, Banjarnegara, dan Penauan. Minggu (22/4) kemarin.

Tidak hanya keseriusan yang biasanya terjadi dalam mengikuti pelajaran, pagi yang cerah itu anak-anak terlihat antusias, bermain, berlarian dengan penuh bahagia. 

Minggu pagi memang RPB mendapat tamu beberapa mahasiwi Untirta jurusan Pendidikan Luar Sekolah Angkatan yang sedang melakukan penelitian untuk tugas akhir. Ulinda, Rismawati, Marliana, Suheti, memberikan nuansa berbeda padaproses pengajaran di RPB. Salah satunya dengan memberikan materi menonton film bersama dan bermain-main dengan ice breaking.

Pembelajaran berbeda dengan media film itu pun ternyata membuat anak-anak kelas bahasa inggris yang rutin diadakan setiap Minggu selama 1 jam ini pun terlihat sangat antusias. Anak-anak terlihat senang dan hidmat menonton film kartun seri pendidikan dan kebersamaan.



Untuk kelas mengajar ini, RPB sebenarnya memiliki banyak relawan yang didatangkan dari PT. Krakatau Posco (KP) sebagai bagian dari program CSR yang dimiliki perusahaan. Namun, untuk pertengahan tahun, dimana jam CSR sudah mulai habis, relawan yang datang pun semakin sedikit.

Saat ini, RPB hanya memilki 3 relawan yang sudah menjadi bagian dari Rumah Peradaban Banten (RPB) dalam mengajarkan bahasa inggris di kampung-kampung. Eki, Bagus dan Sadam, mereka selalu bersemangat, menyisihkan waktunya setiap minggu pagi.

Manajemen KP memang memberlakukan jam CSR bagi keryawannya. Ini merupakan ekpresi keberpihakan manajemen dalam urusan tanggung jawab perusahaan kepada daerah, yang di inisiasi oleh Andi Soko selaku Direktur SDM KP. 

Setiap tahunnya karyawan pabrik baja patungan antara Indonesia dan Korea tersebut, diberikan kewajiban untuk memberikan tanggung jawab sosialnya kepada masyarakat 23 jam per tahun. Sebagian menggunakan waktu CSR nya untuk mengajar kelas bahasa inggris yang di gagas oleh RPB. 

"RPB sangat terbantu dengan program ini, meskipun jika pertengahan tahun seperti ini, ketika jam CSR nya sudah pada habis, kita kembali kerepotan. Jumlah anak-anak yang belajar di RPB begitu banyak, sementara tenaga pengajarnya terbatas" kata Huluful Fahmi, Direktur RPB, Minggu (22/4) kemarin. (Red)

Loading...
Komentar