PROGRESNEWS
PreviousPauseNext

Membangun Desa dari Kampus, Roadshow Bedah Buku Rumah Peradaban Banten

Bedah Buku “Dari Desa Untuk Indonesia, Potret Kecil Gerakan Membangun Desa”, (9/12) yang digelar di Kampus FKIP UNTIRTA. Bedah Buku “Dari Desa Untuk Indonesia, Potret Kecil Gerakan Membangun Desa”, (9/12) yang digelar di Kampus FKIP UNTIRTA.

Serang, Progresnews.com -- Desa merupakan salah satu unsur penunjang kemajuan sebuah negara. Dengan berbagai macam potensinya, desa menjadi salah satu indikator penting untuk bisa diberdayakan, serta diberikan perhatiannya untuk bisa menuju kemandirian desa, yang dapat menopang kemajuan bangsa.

Hal tersebut diucapkan Direktur Yayasan Rumah Peradaban Banten Huluful Fahmi, saat menjadi pembicara dalam bedah buku hasil kerjasama dari Rumah Peradaban Banten bersama Jurusan Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNTIRTA (FKIP UNTIRTA), yang mengangkat tema “Dari Desa Untuk Indonesia, Potret Kecil Gerakan Membangun Desa”, (9/12), Kampus FKIP UNTIRTA Ciwaru.

Kemeriahan terlihat saat acara dilangsungkan, dimana 150 mahasiswa dari berbagai macam jurusan ikut andil dalam bedah buku yang mengangkat tentang potensi desa tersebut. Acara pun turut dihadiri dan dibuka oleh Wakil Dekan 3 FKIP UNTIRTA. 

Buku 'Dari Desa Untuk Indonesia, Potret Kecil Gerakan Membangun Desa" merupakan karya Huluful Fahmi, Aulia yusran dan Puspita Kusumawardani.  Buku tersebut memotret sebuah gerakan membangun desa yang sudah dilakukan oleh para penulisnya. Dengan latar belakang dari masing-masing penulisnya yang berbeda, yang terasa semakin memperkaya khazanah perspektif pembahasan. 

"Dunia kampus yang merupakan ruang dari berbagai macam disiplin ilmu, dan menjadi pintu gerbang sebuah kemajuan bangsa, keberadaannya tidak bisa di pungkiri harus dapat menjadi solusi bagi persoalan desa. Kampus harus dapat mengambil peranan dalam proses berjalannya pengelolaan desa dengan membangun desa dari kampus, dengan berbagai macam konteks dan proporsi peranannya" kata Huluful Fahmi.



Yang lebih menarik, ketiga penulis tersebut memiliki kesamaan yakni pernah belajar langsung kuliah singkat di Yeongnam University, Korea Selatan, dengan didanai dari One Percent Sharing Foundation. Disana ketiga penulis melihat langsung bagaimana Korea Selatan mampu bangkit dari keterpurukan. Kesamaan pengalaman dan visi inilah yang membuat buku ini patut menjadi rujukan bagi pembangunan desa.

Korea Selatan memang memiliki latar belakang tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Dengan semangat yang disebutnya Saemaul Undong, yakni sebuah semangat gotong royong, kemudian negeri ginseng tersebut berhasil lolos dari keterpurukannya dan bisa mensejajarkan dengan negara-negara maju lainnya.

Selain terlihat keriuhan karena banyaknya peserta, diskusi dalam bedah buku itu pun berlangsung hangat, para peserta antusias menyaksikan ketiga pembicara yang tidak lain adalah Huluful Fahmi sebagai penulis, Harta Iramawati Manager of Corporate Planning PT.KPSE sebagai perwakilan dari Industri, dan Nurul Hayat, yang merupakan akademisi Untirta.

"Bedah buku ini merupakan rangkaian roadshow kegiatan Rumah Peradaban Banten, sebelum tahun depan bisa keliling untuk menularkan lebih banyak dan lebih jauh lagi kegiatan bedah buku di beberapa kota di Indonesia. Saya ucapkan terima kasih banyak kepada Untirta dan juga PT. Krakatau Posco dan PT. Krakatau Posco Entreprise (PT.KPSE) yang telah mensupport kegiatan ini sehingga berjalan dengan sangat baik" kata Fahmi. (Red)

Komentar

Terpopuler