Waspada, Hacker Bisa Colong Nomor Handphone Anda

Ilustrasi Ilustrasi

Serang, Progresnews.com -- Dunia Hacking atau peretasan kini menjadi perhatian serius bagi banyak negara di dunia. Utamanya, setelah adanya serangan virus Ransomware yang belakangan telah melumpuhkan fasilitas pelayanan masyarakat di sejumlah negara.

Periset The UnicornTeam dari 360 Technology, perusahaan keamanan terkemuka di China, mendemonstrasikan sebuah 'serangan jahat' pada pertemuan puncak hacker yang berlangsung di Las Vegas, Nevada. Serangan bernama 'Ghost Telephonist' itu memungkinkan hacker mendapatkan konten melalui panggilan pengguna dan SMS.

Seperti dikutip dari brilio.net, UnicornTeam memperkenalkan satu kerentanan pada teknologi layanan suara dan SMS atau CSFB (Circuit Switched Fallback) pada jaringan 4G LTE. Dalam prosedur CSFB, periset menemukan langkah otentikasi hilang.

"Beberapa eksploitasi dapat dilakukan berdasarkan kerentanan ini. Kami telah melaporkan kerentanan ini ke Global System for Mobile Communications Alliance (GSMA)," kata peneliti keamanan nirkabel UnicornTeam, Huang Lin dalam presentasi yang disampaikan di acara puncak pertemuan hacker di Black Hat USA 2017 dan DEF CON di Las Vegas, Nevada seperti dikutip Xinhua, Senin (31/7) kemarin.

Tim riset tersebut menyajikan skenario di mana seseorang bisa mengubah kata sandi akun Google menggunakan nomor ponsel curian. Setelah membajak komunikasi pengguna, periset masuk ke Email Google pengguna dan mengklik 'lupakan kata sandi'.

Karena Google mengirimkan kode verifikasi ke ponsel korban, hacker dapat mencegat teks SMS, kemudian menyetel ulang kata sandi. Di saat bersamaan, korban terus online di jaringan 4G dan tidak sadar akan serangan tersebut.

Banyak akun aplikasi internet menggunakan SMS verifikasi untuk mereset password login, yang berarti hacker bisa menggunakan nomor ponsel untuk memulai prosedur reset password lalu membajak SMS verifikasi.



Menurut periset, hacker juga bisa melakukan panggilan atau SMS dengan meniru identitas korban. Selanjutnya, hacker bisa mendapatkan nomor telepon korban dan kemudian menggunakan nomor telepon itu untuk melakukan serangan lanjutan.

Bahaya lainnya, korban tidak akan merasa diserang. Serangan ini bisa secara acak memilih korban atau menargetkan korban.

Tim peneliti juga mengusulkan banyak tindakan balasan kepada operator dan penyedia layanan Internet. Periset mengatakan sekarang mereka berkolaborasi dengan operator dan produsen terminal untuk memperbaiki kerentanan ini. (Red)

Loading...
Komentar