Pihak berwenang telah memperingatkan akan mengambil tindakan tegas terhadap penggunaan kendaraan yang dimodifikasi secara ilegal. | Kredit Foto: FILE PHOTO

Kelompok usia pengendara kendaraan roda dua yang secara ilegal mengubah kendaraannya dan terlibat dalam pengendaraan yang ugal-ugalan di jalan raya menurun dari mereka yang berusia awal dua puluhan menjadi mereka yang berusia 16 hingga 18 tahun, menurut sumber di departemen Kendaraan Bermotor (MVD).

Banyak sekali pelanggar aturan tersebut, yang dengan gegabah mengendarai kendaraan roda dua hingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga, membahayakan pengendara lain, adalah siswa Kelas Plus Dua, imbuh mereka, mengacu pada insiden baru-baru ini di mana seorang pengendara sepeda muda terlihat melaju kencang di sepanjang koridor Edappally-Kalamassery NH 544 dengan sepeda motornya yang telah dimodifikasi agar mengeluarkan suara berdesibel tinggi dan mengeluarkan percikan dari peredam suara secara berkala.

Selain 'sensasi' yang mereka dapatkan saat melanggar peraturan, para pemuda tersebut sering kali ingin meningkatkan jumlah penonton atas kejenakaan mereka yang kemudian mereka posting di platform media sosial seperti YouTube. Kamera CCTV yang tidak berfungsi atau tidak ada di jalan-jalan utama, termasuk koridor NH, Edappally-Aroor NH Bypass, dan Container Road, telah membuat mereka semakin berani. Selain itu, penerapan inisiatif seperti Project on Accident Free Campus Environment (PACE) untuk mengendalikan pelanggaran tersebut kini tidak aktif, karena tidak adanya alokasi dana, kata sumber tersebut.

Terkait keluhan yang diterimanya, terutama dari orang tua tentang kejahilan yang dilakukan anak muda di jalan raya, terutama pada malam hari, S. Sreejith, Komisaris Transportasi, memperingatkan bahwa tindakan yang lebih ketat sedang dilakukan untuk mengekang mereka. “Petugas Kementerian Dalam Negeri akan membatalkan sertifikat registrasi kendaraan tersebut, dengan alasan bahwa kendaraan tersebut tidak laik jalan,” katanya.

Mengungkapkan kekhawatirannya terhadap maraknya pengubahan sepeda motor dan kendaraan roda empat oleh kaum muda untuk terlibat dalam mengemudi secara gegabah dan melakukan aksi akrobatik, Adarsh ​​Kumar Nair, direktur Institut Keselamatan Jalan dan Transportasi SCMS (SiRST) yang berpusat di Kochi, mengatakan setiap kendaraan dibuat berdasarkan serangkaian spesifikasi, dengan mempertimbangkan keselamatan, stabilitas, dan parameter lainnya.

“Setiap upaya untuk mengubahnya akan menggagalkan tujuan penggunaannya dan bahkan dapat memicu kebakaran. Perubahan pada klakson dan komponen lain yang menimbulkan gangguan, menimbulkan rasa takut, dan mengancam keselamatan pengguna jalan lain tidak dapat diterima. Wanita hamil, orang tua, dan anak-anak termasuk yang paling terdampak oleh tindakan anak muda tersebut. Untuk mencegah insiden seperti itu, perlu dilakukan upaya untuk melibatkan lebih banyak anak muda dalam kampanye kesadaran,” katanya.

Sumber