Kehangatan Kristen Tolikara Meyambut Pengungsi Muslim
3 hari ago Regional Leave a comment 53 Views
Berita Terkait
Mirip Timor Leste, LetJen (Purn) Johannes : Jangan Sampai Terulang lagi
5 hari ago
Papua Dibakar, Benarkah Operasi Intelejen?
11 hari ago
KESEPAKATAN DITANDATANGANI, PAPUA DAMAI!
12 hari ago
Papua, Progresnews.com — Selalu ada hikmah dibalik peristiwa. Mungkin itu juga yang kini tengah terjadi di Tolikara Papua. Paska terjadinya bentrok di Tolikara, Papua, yang menyebabkan warga muslim tak lagi memiliki tempat tinggal, langsung disambut hangat oleh warga pribumi kristen. Dengan gembira, warga muslin diizinkan untuk tinggal sementar di rumah warga pribumi kristen.
Adalah Ustadz Ali, Pria asal ngawi yang merasakan kehangatan warga Pribumi. Berkat kepiawaannya dalam menjalin persahabata dengan warga pribumi, kini ia tinggal di rumah Warga Kristen setempat yang juga putra daerah ber-trah ketua adat, Fiktor Kogoya.
Dengan berbaik hati, Fiktor membuka lebar pintu rumahnya yang sangat sederhana itu untuk Ali dan keluarga. Fiktor dengan senang hati menampung Ali hingga rehabilitasi rampung seluruhnya di Tolikara.
“Saya tinggal di rumah Pak Fiktor. Saya sudah keluar-masuk rumah ini seperti rumah sendiri,” ujar Ali di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, seperti dilansir CNN Indonesia Kamis (23/7).
Ali merasa bersyukur bisa tinggal dirumah sahabatnya itu, meski berbeda keyakinan namun mereka tetap rukun. Keakraban Ali dengan Fiktor bukan baru saja terbentuk, melainkan telah tertanam sejak bertahun-tahun silam. Ali yang merupakan seorang pendatang, rajin bertandang ke rumah warga lokal setempat, tak terkecuali Fiktor dan Pendeta Nayus Wenda, Ketua Kantor Wilayah Gereja Injili di Indonesia (GIDI) di Tolikara.
Ali telah sembilan tahun menetap di Tolikara, hubungannya dengan warga pribumi pun sangat kental. tak hanya di Tolikara, Ali rupanay mengenal juga toko agama kristen dan kepala suku yang di distrik lain. Baginya, mereka sudah seperti keluarga.
“Saya kenal gembala-gembala dan pendeta di sini. Saya kan kalau ada duka (orang meninggal), datang (melayat). Dari situ saya kenal masyarakat dan pendeta,” ujar Ali.
Sementara itu, Fiktor selaku warga pibumi yang merelakan rumahnya untuk ditinggali ikut senang bisa membantu sesama. Sebelum kerusuhan, ia merasakan betul kehangatan dari warga muslim yang kerap menjenguk umat Kristen yang tengah berduka lantaran ditinggal wafat anggota keluarga mereka.
“Ada duka dan masalah apa di keluarga kami, yang langsung cepat ambil bagian rasa duka dan kekurangan kami, biasa dari keluarga teman-teman kami pihak muslim, bahkan pendatang dari luar seperti Toraja,” kata Fiktor.
Untuk itu, Fiktor mengaku sudah menganggap warga muslim di Tolikara sebagai keluarganya sendiri. “Sehingga saat ada kejadian, mereka langsung mengungsi ke keluarga kami,” kata Fiktor (PN06)
Google +