Serang, Progresnews.com -- Jelang dirilis serentak pada 12 Februari 2016, pihak otoritas China melarang film superhero itu tayang karena dianggap banyak adegan kekerasan dan vulgar. Padahal, produsen ilm telah melakukan upaya promosi untuk memikat penonton dengan merilis sejumlah video-video unik dan lucu.
Otoritas Sensor China sering memang ketat dalam menyeleksi film-film yang akan masuk ke negerinya. Mereka biasanya bekerjasama dengan pihak studio Hollywood untuk melakukan sensor. Namun, sensor yang diterapkan kerap memberikan pengaruh kepada film yang terkena sensor sehingga cerita jadi kurang jelas.
Di China sendiri tidak memiliki sistem rating. Regulasi yang bertanggung jawab atas media di negeri itu satu-satunya dipegang oleh SAPPRFT (State Administration of Press, Publication, Radio, Film and Television). Mereka yang akan menentukan film impor yang disensor maupun dilarang tayang.
Berbeda dengan China, Otoritas sensor Film Indonesia LSF (lembaga Sensor Film) memberikan ruang yang luar bagi film Deadpool untuk tayang di Indonesia. Lembaga ini memang tak pernah ketat dalam menyeleksi film-film impor yang akan masuk. Bahkan, hampir semua film impor bebas beredar di bioskop-bioskop tanah air.
LSF kerap tidak memperhatikan unsur banyaknya adegan kekerasan atau dampak buruk lainya dari peredaran sebuah film impor di Indonesia. Sensor-sensor yang dilakukan pun cenderung hanya sekenanya. Wajar, jika masih banyak adegan-adegan dalam film impor yang justru dapat memberikan influence negatif bagi para penontonnya lolos begitu saja.
Di Indonesia, LSF memang kerapkali hanya melarang film-film impor yang membahas tentang agama yang masih menjadi kontroversi atau sejarah yang akan membuka borok penguasa pada jaman dulu.
Film Noah misalnya, karena dianggap tak sesuai dengan apa yang diceritakan dalam kitab berbagai agama, LSF pun melarangnya tayang di bioskop-bioskop Indonesia. belum lagi film Tru Lies yang mengangkat penggambaran sosok teroris sebaga orang arab juga dilarang oleh LSF. Mereka beranggapan bahwa film tersebut hanya akan membawa stigma bahwa Islam adalah agama teroris.
Tak hanya itu, LSF pun melarang beberapa film sejarah yang dianggap akan membuka borok penguasa Indonesia di masa lalu. Adalah Film Balibo Five yang menceritakan seorang mantan jurnalis yang menyelidiki kematian lima orang jurnalis lainnya yaitu Gary Cunningham, Malcolm Rennie, Greg Shackleton, Tony Stewart, dan Brian Peters yang diduga dieksekusi oleh pasukan khusus TNI pada Oktober 1975.
Ditahun 2015 yang lalu, LSF juga melarang beredarnya film yang mengangkat tema sejarah. Film Senyap dilarang oleh LSF lantaran menceritakan perjalanan sebuah keluarga yang mencari keadilan atas kematian kakaknya yang dituduh sebagai bagian dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Sebelumnya, lembaga ini juga melarang beredarnya Film jagal yang juga menceritakan tentang kekejaman yang dilakukan terhadap mereka yang dituduh sebagai anggota PKI. (Haedi/PN06)


