Usai MOS, Siswa SMP Di Bekasi Meninggal Dunia

Usai MOS, Siswa SMP Di Bekasi Meninggal Dunia

18 hari ago Pendidikan Leave a comment 150 Views

Berita Terkait

Lakukan Operasi Pasar, Bulog Jual Daging Sapi 90 Ribu/Kg

5 jam ago

Memperingati Hari Anak, BKBPP Cilegon Gelar Seminar Antisipasi Kekerasan Anak

5 jam ago

Dukung Pembangunan, Bappeda Gelar Ekspose Profil Kota Cilegon

7 jam ago

Bekasi, Progresnews.com — Akibat di paksa berjalan oleh senior sejauh 4 kilometer pada saat Masa Orientasi Siswa (MOS), Evan Christoper Situmorang (12), siswa di SMP Flora Pondok Ungu Permai, tewas setelah dua minggu mengalami sakit di kedua kakinya.

“Tanggal 9 Juli itu kan dia terakhir MOS di SMP Flora. Dia cerita sama saya disuruh jalan kaki dari sekolahnya di Pondok Ungu Blok A ke perumahan Puri. Lalu dari sana jalan kaki lagi ke POM bensin Pondok Ungu dan jalan lagi ke sekolah. Itu rutenya memutar dan ada sekitar 4 kilometer,” ujar ibunda Evan, Ratna Dumiarti di rumahnya Sektor 5 Pondok Ungu Permai, Sabtu (1/8).

Ratna bercerita, kegiatan berjalan kaki yang dilakukan pada saat Masa Orientasi Siswa itu merupakan kegiatan “cinta lingkungan” yang diadakan panitia MOS. Setelah pulang dari kegiatan itu, Evan mengeluh sakit di bagian kaki kepada ibunya. Kakinya keram dan biru-biru.

“Kaki Evan sakit, bu,” ujar Ratna sembari menirukan keluhan anaknya.

Meski sakit, menurut Ratna, Evan masih tetap ingin masuk sekolah pada keesokan harinya. Bahkan, Evan bercerita bahwa dia sempat bermain futsal di sekolah. Setelah itu kondisi kakinya semakin bertambah parah.

Melihat kondisi Evan yang semakin parah, Ratna mencoba mengobati Evan dengan berbagai pengobatan. Dia mengajak Evan untuk pijat refleksi dan berobat ke puskesmas. “Tapi dia itu enggak pernah mengeluh, tetap sekolah,” ujar Ratna.

Cerita Ratna, Evan jatuh dikamar mandi sekolah pada Selasa (28/7), Ratna menduga kaki anaknya kembali keram dan tak kuat berjalan hingga terjatuh. “Setelah itu saya ditelepon dari sekolah. Bilangnya anak saya kakinya keram enggak bisa jalan, enggak bisa berdiri. Saya ini juga guru ya, saya langsung jemput anak saya di sekolah,” ujar Ratna.

Karena jatuh dikamar mandi itulah, akhirnya evan tak masuk sekolah ke-esokan ahrinya. Evan sempat diajak berobat ke puskesmas, dan tiba-tiba evan kejang-kejang pada Kamis (30.7) “Kata dokter, maaf bu, anak ibu sudah meninggal dalam perjalanan,” ujar Ratna.

“Saya enggak mau anak saya mati dokter. Saya enggak mau. Tapi suami saya bilang, ya sudah ikhlaskan saja,” tambah Ratna.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMP Flora Maria Dagomez membantah bahwa meninggalnya Ivan bukan karena mengikuti kegiatan MOS.

“MOS di sekolah panitianya siswa senior. Pelaksanaan 3 hari, kegiatannnya seperti kuis, lomba nyanyi, enggak ada yang di luar kemampuan siswa,” ujar Maria di Bekasi, Sabtu (1/8/2015).

Pihak sekolah pun merasa dirugikan dengan adanya pemberitaan di media sosial tentang meninggalnya Ivan akibat mengikuti kegiatan MOS.

“Pihak sekolah berharap agar pemberitaan di Media Sosial Facebook dihapus. Apabila tak dihapus pihak sekolah akan melakukan somasi ke pihak yang menulis di Facebook itu,” pungkas Mara.

Terlepas dari siapa yang benar dan salah, perpeloncoan di instansi pendidikan dalam bentuk apapun memang tidak dibenarkan, terlebih lagi sampai menghilangkan nyawa anak didiknya. Untuk itu, Pemerintah harus lebih tegas dalam menyikapi persoalan ini, agar kedepan tak terulang kembali. (PN06)

Facebook

Twitter

Google +