Buruh Tuntut Upah Layak Dan Hapus Outsorcing, Polisi Sogok Pake Dangdutan

Tangerang, Progresnews.com -- Tidak kurang dari 500ribu buruh rencananya akan menggelar aksi unjuk rasa menyampaikan beragam tuntutan kepada pemerintah dalam memperingati hari buruh sedunia atau dikenal dengan May Day yang jatuh pada 1 Mei setiap tahunnya .

Dalam aksinya nanti, buruh menuntut pemerintah untuk secepatnya menghapus outsourcing dan pemagangan, melakukan revisi terhadap Jaminan sosial, yaitu jaminan gratis seluruh rakyat dan jaminan pensiun buruh sama dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebesar 60 persen dari gaji terakhir. Serta, menolak upah murah dengan mencabut Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan.

"Dalam kenaikan upah contohnya di 2017, dalam satu bulan hanya seharga satu potong kebab di Eropa," ucap Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal

Dia menuturkan, ketiga isu ini disuarakan buruh dalam peringatan May Day bukan tanpa alasan. Said menilai, kesejahteraan dan per‎lindungan terhadap buruh menurun drastis dalam dua tahun terakhir, "Jadi pernyataan Menteri Tenaga Kerja bahwa perlindungan kaum buruh makin membaik, itu tidak benar," tegas Said.

Sementara itu, pihak kepolisian yang sudah dipastikan akan sibuk dalam mengamankan aksi unjur rasa meminta para buruh untuk tidak melakuan aksi. Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasito 'menyogok' para buruh dengan pagelaan dangdutan.

"Saya berharap besok May Day lebih baik kita dangdutan saja," tutur Irjen Setyo Wasito saat sambutan dalam diskusi bertema 'Hari Buruh Jangan Dijadikan Komoditi Politik' di Gedung Juang 45, Jakarta Pusat, Minggu (30/4) kemarin.

Menurutnya, May Day harus disambu dengan suka cita, salah satunya dengan mengadakan dangdutan. Tak hanya itu, Dangdut kata Irjen Setyo merupakan salah satu budaya Indonesia yang berhasil di kancah internasional, khususnya ASEAN dalam pertarungan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), sehingga layak untuk ditampilkan.

"Keberhasilan Indonesia itu hanya satu di MEA, itu lagu dangdut. Kontes dangdut ASEAN. Hasilnya warga negara Malaysia, Singapura, Thailand, dipaksa belajar bahasa Indonesia. Itu keberhasilan," jelas dia.

Meski begitu, kendatipun para buruh tetap ingin turun ke jalan, Irjen Setyo menghimbau agar bisa menjaga ketertiban dan tidak bertindak anarkis.

"Untuk turun ke jalan tidak dilarang. Yang dilarang anarkis, merusak fasilitas umum, dan barang milik orang lain. Besok kita nikmati dengan suka ria, dengan dangdutan," pungkas Setyo.. (Red)

TAG ekonomi