Serang, Progresnews.com -- Kehadiran Bank Pembangunan Banten dari hasil proses akuisisi Bank Pundi yang menguras APBD Provinsi Banten hingga 950 miliar, ternyata tak berpengaruh pada laba bersih kompetitornya, Bank BJB.

“Kinerja kami tidak akan terpengaruh. Kami akan konsisten meningkatkan kinerja dengan sejumlah terobosan,” tutur Direktur Utama Bank Jabar Banten Ahmad Irfan di Jakarta akhir pekan lalu.

Justru, Hingga kuartal ketiga Bank bjb menuai hasil positif dengan peningkatan laba bersih sebanyak 55,6 persen menjadi 1,392 triliun rupiah, ditengah terus meruginya Bank Pembangunan Banten.

Kredit tumbuh 15,7 persen menjadi Rp 60,023 triliun. Segmen komersial mencatat pertumbuhan terbesar 33 persen menjadi Rp 12,269 triliun, disusul segmen konsumer tumbuh 15 persen menjadi Rp 42,82 triliun.

Rasio kredit bermasalah (NPL) turun menjadi 1,7 persen. Rasio kecukupan modal (CAR) naik menjadi 18,1 persen.

”Faktor utama penyumbang laba bersih dari pendapatan bunga bersih tumbuh 27,3 persen. Pengelolaan biaya operasional sehat dan sukses mengendalikan struktur pendanaan menjadi lebih efisien,” urainya.

Disisi yang berbeda, Bank Pembangunan Banten seperti di kutip dari kontan.co.id, terus mengalami kerugian yang cukup signifikan. Hal ini bisa dilihat dari kerugian bersih sebesar Rp 180 miliar. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, rugi bersih ini mengalami kenaikan 47,54% yoy.

Dalam laporan keuangan publikasi Bank Banten yang diterbitkan Selasa, (16/8) lalu, disebut kerugian ini disebabkan karena pendapatan bunga bersih turun 81,82% yoy menjadi hanya Rp 44 miliar. Untungnya, beban operasional selain bunga turun 32,75% yoy menjadi Rp 269 miliar.

Dari fungsi intermediasi, tercatat kredit bank yang dulu bernama Bank Pundi ini mengalami penurunan 35% yoy menjadi Rp 3,4 triliun.

Sebagai informasi, Bank Pembangunan Banten merupakan Bank Milik pemerintah provinsi Banten, hasil dari proses akuisi Bank Pundi dengan gelontoran dana APBD senilai 950 miliar rupiah.

Proses akuisisi menjadi Bank Pembangunan Banten sempat diwarnai kasus suap menyuap yang melibatkan BUMD pengelola utama Bank Banten yakni Direktur Utama PT Banten Global Development dengan sejumlah anggota DPRD Banten.

Bahkan, dalam persidangan beberapa waktu lalu, gubernur Rano Karno pun sempat dihadirkan sebagai saksi dalam kasus suap menyuap itu. (Red)