Serang, Progresnews.com -- Hari batik nasional yang jatuh pada 2 oktober kemarin memberi keuntungan tersendir bagi para penjual batik, tak terkecuali bagi penyedia flatform jual beli online atau ecommerce .

Tokopedia misalnya, selaku salah satu mal online di Indonesia mencatat terjadi peningkatan signifikan penjualan batik dari tahun 2014 sampai saat ini. Pihak Tokopedia mencatat peningkatan penjualan batik dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada hari ini, Selasa (2/10) kemarin .

"Pada 2018, penjualan batik lewat Tokopedia tercatat meningkat 35 kali lipat dari tahun 2014. Jawa Tengah menempati posisi teratas dalam daftar 10 provinsi dengan penjualan batik tertinggi di Tokopedia sepanjang tahun ini," kata Senior Public Relation Specialist Tokopedia Antonia Adega kepada Kompas.com, Selasa pagi.

Adega mengungkapkan, Tokopedia memetakan 10 provinsi yang memiliki penjualan batik tertinggi melalui platform mereka untuk tahun ini, dan Banten menyumbang 4 persen untuk proses jual beli batik selama Hari Batik Nasional.

Kemudian, Sumatera Utara 0,4 persen, Aceh (0,5 persen), Sumatera Selatan 1 persen, dan Bali 2 persen, Yogyakarta 3 persen, Jawa Timur 6 persen, Jawa Barat 14 persen, DKI Jakarta 32 persen, dan terakhir Jawa Tengah di posisi tertinggi 34 persen.

Khusus untuk pertumbuhan penjualan batik di Tokopedia seperti dilansir kompas.com, dari tahun ke tahun selalu meningkat signifikan. Seperti tahun 2014 sebesar 49,4 persen yang meningkat di tahun 2015 sebesar 62,1 persen, tahun 2016 sebesar 174,6 persen, tahun 2017 sebesar 446,3 persen, dan diperkirakan meningkat lebih tinggi lagi tahun ini.

"Kenaikan (penjualan batik) tersebut menunjukkan bagaimana keseriusan para kreator lokal dalam memproduksi batik diikuti dengan antusiasme masyarakat Indonesia dalam berbelanja batik," tutur Adega.

Peningkatan penjualan batik turut dirasakan oleh pelaku usaha. Adega menceritakan, salah satu penjual di Tokopedia, Riko Saputro, memanfaatkan platform Tokopedia untuk mendongkrak usaha batiknya sejak 2009.

"Melalui marketplace, Riko selaku pemilik toko Batik Nitnot ini berhasil membangkitkan usaha batiknya tahun 2009 setelah sebelumnya bangkrut pada tahun 2005," ujar Adeg. (Red)